Rahasia Dibalik Matematika Shalat

1:25 AM Diposting oleh Bayu Sasongko

Bookmark and Share
Berapa lamakah kita shalat dalam sehari semalam? Jika setiap rakaat kita perkirakan dua menit, maka dalam sehari-semalam jumlahnya ada 34 menit. Artinya, dalam sehari hanya kita isi sebanyak 2,4 persen dari 1440 menit. Dalam satu minggu, berarti ada 238 menit atau 3,96 jam. Dalam satu bulan, lama shalat kita sebanyak 952 menit atau 15,86 jam. Dan setahun, ada 11.424 menit atau 190,4 jam, yang berarti setara dengan 7,93 hari.



Jika rata-rata usia hidup manusia selama 60 tahun, dan dikurangi dengan 10 tahun masa awal akil baligh (dewasa), maka hanya 50 tahun seseorang melaksanakan shalat dalam hidupnya. Itu berarti, sepanjang hidupnya ia melaksanakan shalat fardlu selama 571.200 menit atau sekitar 9.520 jam, atau 396,7 hari (1,1 tahun).



Bisa dibayangkan, selama hidup, kita hanya butuh waktu untuk shalat fardhu selama 1,1 tahun, atau dalam satu tahun hanya 7,93 hari, atau dalam satu hari hanya 34 menit. Dari sini terlihat betapa jauhnya perbandingan ketaatan kita kepada Allah SWT dengan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita dengan nikmat usia.



Maka, sangat disayangkan apabila ada orang yang tidak melaksanakan shalat karena alasan tidak ada waktu atau sibuk. Padahal, jika kita jujur terhadap diri sendiri, kita mampu berlama-lama bertelepon, nongkrong di depan komputer, jalan-jalan, nonton TV, dan lain sebagainya.



Ingatlah, Abu Zubair menceritakan bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, ''Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran itu terdapat perbuatan meninggalkan shalat'." (HR Muslim).



Oleh karena itu, jangan pernah merasa puas dan berbangga diri dengan ibadah yang telah kita laksanakan. Sebab, bisa jadi ibadah kita, terutama shalat, tidak akan berarti apa-apa bila hal itu kita kerjakan dengan tidak ikhlas. Apalagi berharap surga. Allah menyindir orang yang demikian dengan pendusta agama. (QS Al-Maun [107]: 1-7).



Jadi, jangan hanya mengandalkan masuk surga dengan selembar tiket shalat fardhu. Silakan menjaring rahmat Allah dengan banyak beramal saleh. Berinfak, zakat, puasa, haji, akur dengan tetangga, menyambung silaturahim, mengurus keluarga, belajar, menyantuni anak yatim, tidak membuang sampah sembarangan, bahkan hanya tersenyum kepada teman pun termasuk amal shaleh. Wallahu a'lam.

Related Posts with Thumbnails

2 komentar:

  1. bahtiar mengatakan...

    Bagi orang2 yang benar2 meneliti gerakan ini maka akan faham, bahwa NII KW-9 bukanlah benar2 memperjuangkan Negara Islam sebagaimana SM Kartosoewiryo dan sebagaimana yang digembar-gemborkan di internal NII KW-9 sendiri, karena mereka yang gembar-gembor (aparat NII KW-9) sendiri pada hakikatnya adalah korban juga yang sama sekali tidak mengetahui grand design dari gerakan NII KW-9 ini.




    Justru berdirinya NII KW-9 ini adalah upaya intelejen Rezim Orde Baru untuk mempertahankan sekulerisme Pancasila. Caranya, target untuk masyarakat umum (eksternal) yang tidak terekrut menjadi jemaah NII KW-9 adalah terdistorsinya pemikiran masyarakat bahwa NII itu negatif, NII itu rampok, ahli takfir, dsb. padahal yang terjadi sebenarnya adalah pengaburan pemahaman.



    Sementara target untuk mereka yang terekrut (internal) adalah meruntuhkan semangat (ghirah) pemuda/i Muslim untuk menegakkan syariat Islam, yakni dengan mendoktrin bahwa NII (KW-9) itu ingin menegakkan negara Islam, bahwa jika diluar NII itu kafir, maka NII KW-9 ini adalah wadah bagi pemuda/i yang memiliki ghirah untuk memperjuangkan Islam. Nah, setelah pemuda/i itu yakin akan kebenaran doktrin2 NII KW-9 itu, maka di internal NII KW-9 dibuatlah program2 yang memberatkan dengan penafsiran2 baru yang logis, namun sebenarnya sangat bertentangan dengan ajaran2 Islam. Tujuannya adalah melemahkan kembali semangat menegakkan syariat yang sebelumnya digembar-gemborkan. Ini diibaratkan kita diajari terbang sangat tinggi, namun setelah kita mampu terbang tinggi sayap kita sengaja dipatahkan.
    Efeknya bagi NII (asli) adalah dalam hal pencitraan. Sekarang jika orang bicara NII, maka yang timbul dalam perspektif masyarakat awam adalah NII KW-9 (Al-Zaytun) nya Panji Gumilang, yang pake infak wajib, yang nggak wajib shalat, dll. Padahal NII yang asli tidak begitu.

    Sedangkan efek bagi si Korban ada 2, tergantung dari karakter si korban itu sendiri, apakah dia kritis selama menjadi jemaah atau pasif.

    Karakter Kritis

    Karakteristik ini sebenarnya tidak diharapkan untuk direkrut oleh NII KW-9 karena dianggap membahayakan, walau oleh aparat NII KW-9 karakter kritis ini digambarkan sebagai sosok yang “belum faham”.

    Bagi mereka yang kritis ketika aktif menjadi jemaah dia akan bersikap kritis mengenai dalil2 yang dianggap menyimpang, seperti tidak wajib shalat, dll. Dan alasan mereka keluar pun karena keyakinan, bahwa yang mereka jalani di NII KW-9 itu salah dan menyimpang dari ajaran Islam.

    Umumnya bekas korban dengan karakter seperti ini setelah keluar akan bersikap melawan karena merasa memiliki tanggung jawab agar orang lain tidak sampai terjerumus ke NII KW-9. Bahkan banyak yang menjadi aktifis ormas Islam untuk menuntut pengusutan masalah NII (gadungan) ini, dan semakin keras suara mereka menyerukan syariat Islam, karena mereka menyadari ada yang tidak beres dalam negara ini terkait NII KW-9.

    Karakter Pasif

    Sementara mereka yang pasif, tidak kritis mereka akan menerima mentah2 doktrin yang disampaikan oleh aparat2 NII KW-9. Mereka sepenuhnya meyakini kebenaran doktrin2 NII KW-9. Disuruh tidak bertanya ke orang lain (ulama) mereka menurut, disuruh tidak membaca buku2 diluar lingkup NII mereka juga menurut. Akibatnya ketika mereka keluar dari NII KW-9 bukan karena keyakinan, malinkan karena tidak sanggup menjalankan aktivitas yang ada dalam NII KW-9 ini. Sementara dalam hati mereka masih meyakini bahwa ajaran NII KW-9 itu yang benar. Akibatnya setelah keluar mereka merasa dirinya kafir karena telah keluar dari “Islam yang benar”, yaitu NII KW-9. Banyak diantara mereka yang meninggalkan shalat, enggan ikut2 pengajian, dan yang paling dianggap berhasil adalah menurunnya ghirah perjuangan mereka dalam menegakkan syariat Islam, bahkan menjadi antipati mendengar syariat Islam dan Negara Islam.

  2. bahtiar mengatakan...

    Bagi orang2 yang benar2 meneliti gerakan ini maka akan faham, bahwa NII KW-9 bukanlah benar2 memperjuangkan Negara Islam sebagaimana SM Kartosoewiryo dan sebagaimana yang digembar-gemborkan di internal NII KW-9 sendiri, karena mereka yang gembar-gembor (aparat NII KW-9) sendiri pada hakikatnya adalah korban juga yang sama sekali tidak mengetahui grand design dari gerakan NII KW-9 ini.




    Justru berdirinya NII KW-9 ini adalah upaya intelejen Rezim Orde Baru untuk mempertahankan sekulerisme Pancasila. Caranya, target untuk masyarakat umum (eksternal) yang tidak terekrut menjadi jemaah NII KW-9 adalah terdistorsinya pemikiran masyarakat bahwa NII itu negatif, NII itu rampok, ahli takfir, dsb. padahal yang terjadi sebenarnya adalah pengaburan pemahaman.



    Sementara target untuk mereka yang terekrut (internal) adalah meruntuhkan semangat (ghirah) pemuda/i Muslim untuk menegakkan syariat Islam, yakni dengan mendoktrin bahwa NII (KW-9) itu ingin menegakkan negara Islam, bahwa jika diluar NII itu kafir, maka NII KW-9 ini adalah wadah bagi pemuda/i yang memiliki ghirah untuk memperjuangkan Islam. Nah, setelah pemuda/i itu yakin akan kebenaran doktrin2 NII KW-9 itu, maka di internal NII KW-9 dibuatlah program2 yang memberatkan dengan penafsiran2 baru yang logis, namun sebenarnya sangat bertentangan dengan ajaran2 Islam. Tujuannya adalah melemahkan kembali semangat menegakkan syariat yang sebelumnya digembar-gemborkan. Ini diibaratkan kita diajari terbang sangat tinggi, namun setelah kita mampu terbang tinggi sayap kita sengaja dipatahkan.

    Efeknya bagi NII (asli) adalah dalam hal pencitraan. Sekarang jika orang bicara NII, maka yang timbul dalam perspektif masyarakat awam adalah NII KW-9 (Al-Zaytun) nya Panji Gumilang, yang pake infak wajib, yang nggak wajib shalat, dll. Padahal NII yang asli tidak begitu.

Posting Komentar